Sabtu, 04 Oktober 2014

Middle Name Problem

I feel so confused right now

I had just booked two tickets from AirAsia for me and my husband, and then I realize : "Do I need to put my middle name in the booking form??". Well, actually the form only requires first and last name, so I did not mention my mid name. But then I go through some articles that said that we indeed have to write the middle name -- just like in the passport -- or else we might get into trouble in the check in counter or even in the immigration. 

I tried to contact the call service assistance, but they cannot change my booking name. No help at all.
Then I browsed around the web to find that I am not alone! Many people thought the same thing, 'AirAsia does not have space for middle names in their booking form!'. So, from what I have observed from some forums and blogs, they mostly say that middle name is not necessary. Many of them could fly and enter a country easily with only first and last name printed in their ticket. However, there are still people who's not so lucky and must deal with problem in the counter office--some were asked to buy NEW ticket. 

I got panic right now. Another blog suggested to fill the e-form in the AirAsia web. I did. But it is said that we have to wait for 5 days before they could response. It's too long. I need to know the true answer as soon as possible T_T

So the last thing I'd try is to contact AirAsia via livechat. Some said, this is the faster way to overcome your booking problem. I'm now queuing for the service. WISH ME LUCK!


Senin, 18 Agustus 2014

Balikpapan

Dipikir-pikir lagi, sebenarnya tinggal dan berkehidupan di Balikpapan itu sangat nyaman. Kotanya memang kecil, kadang membosankan, dan segala barang kebutuhan mahal harganya. Tapi, di sini memang rata-rata penghasilannya cukup tinggi. Mbak-mbak asisten rumah tangga aja bisa pasang tarif sampai satu juta untuk bekerja 2-3 jam per hari selama 6 hari. Client-nya bisa sampai 4 rumah seharinya. Eh bukan itu sih inti cerita kali ini.

Maksud cerita hari ini, Balikpapan itu enak untuk tinggal, apalagi bagi yang sudah berkeluarga. Karena ga banyak tempat komersial, orang-orangnya juga jadi ga begitu hedon. Selama di sini juga ga pernah punya kenalan yang doyan clubbing (buat saya, clubbing itu selalu negatif). Denger gosipnya aja ga pernah. Dan suasana di sini cukup islami. Ibu-ibunya banyak yang berjilbab syar'i, banyak event-event keagamaan (di kantor, di komplek), dan suami-suami pun doyannya jamaah ke masjid. Anak gaul pun di sini jadi ikut pengajian. Di Balikpapan juga bersih. Di angkot selalu tersedia tempat sampah. Ga pernah liat sampah numpuk sembarangan di tepi jalan. Dan salah satu faktor paling penting: Balikpapan ga macet! Paling macet-macet biasa aja, ga pernah sampe deadlock. Pekerjaan juga tema-nya work life balance. Masuk tepat waktu, pulang juga bisa tenggo. Yang penting kerjaan beres. Teman-temannya baik semua. Kayaknya, Balikpapan ini bisa mengubah orang menjadi lebih membumi.

Karena hal-hal di atas inilah yang belakangan ini membuat saya lebih mensyukuri nasib yang membawa saya menetap di Balikpapan Beriman saat ini.

..... Tinggal masalah listrik dan antrian BBM saja nih.. And everything will be closer to perfect.

Jumat, 01 Agustus 2014

Awam

Sebagai seorang muslim (yg masih teramat dangkal ilmunya), terkadang saya merasa bingung dengan situasi umat muslim saat ini. Ada berbagai macam golongan, yang semuanya merasa diri paling benar dan lalu mensesat-sesatkan golongan lainnya. Malah sampai saling bunuh-bunuhan. Padahal, secara sangat sederhananya, kita menyembah Tuhan yang sama kan? Katanya, sesama umat muslim itu bersaudara. Harusnya, agama Islam itu adalah agama damai. Dengan umat agama lain pun kita harus bertoleransi, tapi kenapa dengan sesama muslim pun masih saling mencerca. Kenapa situasi saat ini terasa jauh dari damai?

Kalau merasa golongannya yang paling benar, lalu lantas apa boleh kemudian menjelek-jelekan yang lain? Sampai-sampai menjelekannya dengan membawa dalil-dalil. Apakah ada anjuran-nya untuk berbuat seperti itu? Saya kira tak ada. Bahkan, bukannya berdebat yang tak ada ujungnya pun harusnya dihindari? Saya lebih tidak mengerti dengan golongan yang bahkan bisa berbuat lebih jahat-- merusak, membunuh--lalu membawa agama sebagai dasarnya. Seakan dirinya paling benar, seakan dirinya orang suci yang sudah dijamin surga sampai berani-beraninya berbuat kekejaman atas nama agama. Benarkah agama saya menyuruh seperti itu? Saya tidak percaya. Yang saya tahu, Islam bukan agama yang agresif. Pasti ada alasan kuat, sejarah yang melatarbelakangi setiap kejadian terkait Islam di zaman dahulu, termasuk kejadian terkait perang. Yang saya tahu, dulu Nabi Muhammad sangat bersabar meski dihina bahkan diperlakukan kasar saat ia mendakwahkan Islam di negeri Arab. Nah, zaman sekarang, saya merasa bahwa orang-orang menyitir ayat atau sunnah, tanpa melihat konteksnya secara lengkap. Makanya, banyak yang salah paham mengira Islam adalah agama kekerasan.

Apa boleh buat, sebagian umat muslim lebih senang mementingkan perbedaan golongan-golongan ketimbang menjadi muslim yang terjaga hubungannya dengan Allah dan dengan sesama manusia lainnya. Lebih senang menghabiskan waktu dengan mencari-cari kesalahan "golongan" lain dan membuat panas suasana ketimbang membuat dirinya lebih bijak.

Ah, kesal dengan oknum-oknum seperti itu.

Sabtu, 05 Juli 2014

Ramadhan

It's Ramadhan again and I'd like to deeply apologize for all mistakes I did.

My goal this year is simply to increase the quality of worship and become a better human.

This year, for the first time, I'll spend the Idul Fitri day in Balikpapan. Just me and my husband. Blame the overpriced flight from here to Jakarta. But it's okay..

Selasa, 06 Mei 2014

My Current K-Pop Playlist

1. Akdong Musician - 200%
2. Fxxk U - Ga In feat. Bumkey
3. Some - Soyou feat. JungGiGo
4. Full moon - Sunmi feat. Lena

Minggu, 27 April 2014

Sedikit Politik

Berhubung lagi musim pemilu, jadi pengen "curhat" dikit soal perpolitikan, dari sudut pandang seorang awam tentunya.
FYI, gw golput karena KTP gw masih KTP Cilegon... Yaaa, kalo pun gw milih kayaknya ga ada pilihan yang cukup baik juga sih *pesimisdotcom*

Gw tuh paling heran kenapa di Indonesia ini siapapun bisa nyaleg. Siapapun means really siapapun.. Ga peduli bekgron lo kayak gimana. Yg penting punya duit dan didukung partai. Coba bayangin, buat diterima kerja aja jaman sekarang udah susah. Persyaratannya dari IPK, bahasa inggris, psikotest sampe personalities. Itu cuma untuk kerja di perusahaan lho. Logikanya mah jadi "pegawai" negara semestinya persyaratannya lebih ketat lagi. Wong ngurusin hajat hidup (dan duit) satu negara besar. Ga perlu sejenius ilmuwan-lah, at least harus punya pembuktian kalo dia adalah orang yang truly capable dan beritikad baik.

Makanya gw juga bingung dengan banyaknya artis yang bisa nyaleg (dan lolos pula jadi anggota dewan). Sorry to say, sekilas aja udah keliatan kok ga berbobotnya beberapa dari artis tersebut. Ada yang ngomong aja berbelit-belit ga intelek, ada juga yang bisa ngomong panjang lebar tapi sebenernya isinya kosong. Uh kesel banget kalo mikirin nasib negara ini berada di tangan orang yang begono. Lebih males lagi kalo ternyata udah otak ga ada, terus ikutan korupsi pula. What a shame.

Yang gw heran, screening caleg itu kan dilakukan oleh parpol ya. In other words, parpol itu semacam perusahaan yang memproduksi "caleg" kan. Well, kalo ada parpol yang ngajuin caleg ga mutu, secara ga langsung, parpol itu harusnya classified sebagai "perusahaan" yang ga bonafid dong. Kalo perusahaan yang maju, pasti mereka punya quality control yang bagus.

Yah, itu logikanya sih. Masalahnya politik kan emang kagak pake logika. Yang penting menggalang massa sebanyak-banyaknya supaya punya suara dominan di suatu pemerintahan. Supaya punya hak kontribusi lebih besar dalam menentukan arah suatu negara. Yah tapi caranya aja kayak gitu. Rasanya sanksi banget kalo ada suatu parpol yang orientasinya bener2 untuk memajukan negara. Biasanya, orang2 politik ini suka ga tau malu.. Udah tau kinerjanya ga bagus, tetep aja keukeuh mempertahankan jabatan. Mereka cuma mau power yang ujung2nya dipakai kepentingan sebagian golongan saja.

Coba orang Indonesia punya rasa malu kayak orang2 pemerintah Korea ato Jepang. Kalo merasa gagal, mereka ga ragu untuk mundur, ato kalo perlu, bunuh diri segala sebagai bentuk tanggungjawab. Bagian bunuh dirinya agak lebay sih memang. Tapi coba orang2 dalam pemerintahan Indonesia kayak gitu, mungkin dalam setahun kita udah rekor ratusan kali ganti pemimpin saking banyaknya masalah yang selalu merugikan rakyat. Kita doyannya melihara masalah sih.

In summary, gw ngerasa rakyat Indonesia ini belom siap dengan sistem Pemilu kayak gini, yang rasanya masih lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Tapi gw juga ga tau Indonesia cocoknya pake sistem kayak gimana. Mau pake cara orde lama, orde baru, orde reformasi kayaknya ga pernah bener2 beres masalah negara ini. Sekarang gw paling cuma bisa misuh-misuh aja ngeliat slip gaji gw tiap bulan kena pajak yang selalu punya kemungkinan jatuhi ke tangan orang yang ga berhak. Bikin sakit hati kan kalo mikir tiap bulan kita sedekah sama penjahat