Tampilkan postingan dengan label favorite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label favorite. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Mei 2010

Current Obsession: Audrey Hepburn






Dua hari ini, saya terobsesi pada sosok seorang aktris terkenal tahun 1950an: Audrey Hepburn.

Sampai-sampai tumblr saya penuh dengan reblog foto-foto dia. Bahkan saya spesial nge-follow tumblr yang khusus didedikasikan untuk Audrey Hepburn, ourfairlady. Dan tentu saja saya ga lupa searching biografinya juga di internet. Freak sih tapi bodo amat. Haha.

Padahal, sebenarnya saya baru satu kali menonton filmnya yang berjudul Charade. Itu pun ga sengaja karena kebetulan diputar di tv kabel. Di film itu, dia berpasangan dengan Cary Grant (menurut saya, aktor yang satu ini seperti George Clooney-nya zaman sekarang). Audrey berperan sebagai seorang janda yang suaminya dibunuh dan meninggalkan harta yang sebenarnya adalah harta curian perang dunia kedua.

Selain Charade, film-film lainnya yang legendaris adalah Roman Holiday (she won Oscar for this movie), Breakfast at Tiffany's (fashion style-nya di film ini sangat memorable) dan My Fair Lady.


Ya ampun, saya ga ngerti lagi kenapa di dunia ini pernah terlahir orang secantik Audrey Hepburn. Mukanya klasik banget deh, cantiknya paraaaahhh. Saya ingin menggambarkannya dengan kata-kata, tapi susah sekali menjabarkan kecantikan semacam ini. Fyuh.

By the way, setelah mengundurkan diri dari dunia perfilman, Audrey Hepburn mengabdikan diri sebagai duta UNICEF dan berkeliling dunia membantu orang-orang miskin hingga ia meninggal dunia karena kanker di tahun 1993.


Well, ada satu hal lagi yang menarik dari seorang Audrey Hepburn. Ia sangat menyukai anak-anak. Bahkan ia sampai memutuskan hubungannya dengan William Holden (yang juga seorang aktor) setelah tahu bahwa ternyata Holden sudah divasektomi. Dan Audrey juga pernah memelihara seekor anak rusa yang diberi nama Ip.

Ah, saya harus menonton semua film-filmnya!

(dipost sambil nge-buffer trailer Breakfast at Tiffany's)

Sabtu, 17 April 2010

Current Shoot


(Suasana di Indonesia Tenggelam saat wisudaan KMSR)


(Pohon Flamboyan di depan sekre PSTK)


(Tanah dan dedaunan kering)


(lampu dan langit)


(katanya ga bisa lulus tepat waktu kalau pake toga sebelum wisuda.. tapi emang SBM ga akan lulus bulan Juli kan? :p)


*Foto diambil dengan SE K800i (Sonya), diedit dengan Dell Inspiron Mini (Dellino)

Selasa, 13 April 2010

Interesting Day :D

Well, saya merasa sore dan malam ini sangat interesting.

Dari pagi sih seperti biasa saya agak-agak nelat ke kantor (hari ini saya magang), mengerjakan tugas-tugas kuliah (tentu diselingi entertainment macam facebook, browsing tralala :p), dan sorenya saya janjian sama teman saya untuk nonton Alice in Wonderland.

Seluruh bioskop di Bandung udah ga ada yang muter, kecuali sebuah bioskop bernama Bioskop Nusantara di Gedung Palaguna... somewhere over the rainbow. Dengan rasa penasaran yang lebih tinggi terhadap bentuk bioskop tersebut ketimbang film-nya sendiri, akhirnya saya nekat-nekatin aja buat nyoba ke sana. Jam 5an saya dijemput di depan kantor dan langsung menuju TKP. Kata teman saya, Gedung Palaguna ada di sekitar alun-alun dekat Mesjid Agung. Dan berhubung teman saya ini cuma bawa satu helm, jadilah kita muter-muter nyari rute yang sepi polisi. Bandel :p

Btw, berhubung saya pake baju kantoran dan teman saya memakai jaket kampus, saya jadi merasa seperti tante-tante dengan brondong lho (walau wajah saya tetap imut sih)

Setengah jam kemudian kami sampai dan *jreng jreeengggg*

Gedung Palaguna ternyata adalah sebuah gedung terbengkalai, kusam, berkarat, dan sangat sepi. Elevator yang mati, toko-toko yang hanya tersisa plang-nya saja, pencahayaan yang temaram, debu debu dan debu... berasa di film horror banget deh. Hehe. Tapi dasar saya memang agak aneh kali yaa.. kok suasana kayak gitu bagi saya menarik banget. Memasuki gedung itu seperti berada di dunia yang berbeda dengan suasana luar gedung yang hiruk-pikuk.

Lalu, kami segera menuju ke bioskop Nusantara yang terletak di lantai tiga. Tepat di depan elevator, ada papan bertempelkan poster-poster film yang sedang diputar. Hmm.. sejujurnya melihat gedung yang seperti itu, saya sempat berpikir jangan-jangan film yang ditayangkan di sana adalah jenis film-film biru tahun 70an. Tapi ternyata film-film normal tuh. Ada Surrogate, Alice in Wonderland, dan dua film Indonesia (salah satunya film Jupe). Suasana bioskopnya sendiri malah lebih suram lagi. Loket-loketnya tutup dan suasanya lebih gelap dibanding di lantai bawah.

Saat kami sudah berpikiran bahwa bioskopnya tutup, tiba-tiba muncul seorang bapak-bapak ber-tato. Bapak itu menuntun kami menyusuri lorong-lorong gelap temaram (dan entah mengapa kami ngikut-ngikut aja). Serius deh, sebenarnya saat itu saya berpikiran bisa saja kami berdua dibunuh diam-diam di tempat sepi kayak gitu. Tapi syukur Alhamdulillah, ternyata bapak itu menuntun kami ke teater pemutaran film. Sayang, film yang diputar hanya Surrogate dan film-nya Jupe. Dan nampaknya tidak ada satu pun penonton hari itu. Sebenarnya saya masih agak penasaran sih sama suasana teaternya. Apakah ada tikusnya? Apakah ada jarum suntik berisi virus AIDS di kursinya? Hehe, siapa tau kan? Tapi akhirnya kita ga jadi nonton sih. Dan saya bisa melihat sedikit rona kekecewaan di dalam ekspresi bapak yang mengantar kami ke teater itu.

Saya dan teman saya lalu sedikit berkeliling di gedung itu. Well, ada suatu spot berupa dinding kaca di mana kami bisa melihat pemandangan mesjid Agung di senja hari. Cantiiiik. Mau foto-foto sih tapi takut yang kefoto malah yang 'lain'. Wkwkwk. Akhirnya saya mengambil foto mesjid dari depan gedung saja (Gedung Palaguna berhadapan langsung dengan Mesjid Agung). Dan ternyata, masih ada lho kehidupan di pertokoan tersebut. Masih ada beberapa toko yang menjual peralatan kosmetik, jaket kulit, dan batu-batuan seperti kecubung dan akik. Ada pula anak-anak kecil berlari-larian dengan riang di tengah kesenduan pertokoan itu...

Sebenarnya riwayat Gedung Palaguna itu cukup tragis. Menurut orang yang menjaga parkiran basement tempat teman saya memarkir motor, gedung itu dibuka tahun 1983 dan dulunya ramai sekali seperti antrian orang membeli karcis. Lama-lama, pengunjungnya semakin surut dan tempat itu menjadi terbengkalai seperti sekarang. Malah, dengar-dengar status gedung itu pun bermasalah. Sayang sekali, padahal letaknya cukup strategis di dekat alun-alun.

Yah begitulah. Sedikit menyedihkan untuk saya. Mungkinkah mall-mall seperti PVJ atau Ciwalk suatu saat akan bernasib nahas seperti Gedung Palaguna dengan Bioskop Nusantara-nya?

Sore itu pun kami tutup dengan makan malam di Cemar yang berlokasi di dekat stasiun (baru sekali itu saya makan di sana, gulai sapinya enak :D). Makan-makanan enak, ngobrol ngalor-ngidul di meja dengan pemandangan jalan raya dan lampu-lampu pertokoan, diakhiri dengan potongan cokelat... ngga tau ya, saya senang saja hari itu. Rasanya fun banget. Apalagi pulangnya teman saya mengabulkan permintaan saya untuk makan es krim dulu di Toko Rasa di Jalan Tamblong. Lengkap deh ada dessert yang manis segar.

Appetizer-nya tentu saja pengalaman menarik di Gedung Palaguna :)

*by the way, maaf saya ga nyebut nama teman saya itu karena takut menimbulkan fitnah hahaha.. pokoknya terimakasih banyak untuk teman saya nan ganteng (menjilat karena udah jalan-jalan seru :p)*



(poster film yang dipajang di depan elevator)


(ternyata di pintu masuk gedung ada papan yang bertuliskan keterangan film yang diputar hari itu: Surrogate dan Terekam-nya Jupe)

Senin, 12 April 2010

Saya dan PSTK

Sampai detik ini pun, saya masih merasa keberadaan dan kecintaan saya pada Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan (PSTK) ITB adalah hasil dari serangkaian "kebetulan-kebetulan" yang terlalu manis.

Coba bayangkan, saya ini baru bergabung dengan unit ini di Bulan Januari lho. Janggal kan? Dimana-mana anggota baru itu masuknya di bulan Agustus pas Open House Unit (OHU) untuk dilantik di akhir semester. Lha, bahkan saya sama sekali tidak mendaftar di PSTK saat OHU dan tidak tahu-menahu tentang unit ini (tidak tertarik pula dengan kebudayaan Jawa).

Adalah sobat saya nan cantik, Gracia, yang pertamakali mengajak saya untuk bergabung. Grace sudah mendaftar sejak OHU tapi jarang ikut latihan... dan keberadaan teman seperjuangan akan sangat membantu meningkatkan semangat. Bersyukurlah saya karena pada masa itu, sistem penerimaan anggota baru PSTK masih berantakan. Belum ada sistem Pinampenan Lara Enggal seperti yang telah diterapkan 2 tahun ini. Jadilah saya bisa tiba-tiba masuk di awal semester kedua :D

Dan masuk-masuk, saya malah langsung mendapat kesempatan menari dalam sendratari untuk acara ulangtahun PSTK yang ke-37. Judulnya "Malapetaka Giling Wesi" dan peran saya serta Gracia adalah menjadi raksasa-raksasa mungil yang cantik. Yeah, we wish. Muka kami dicorat-coret dan kami harus mengenakan wig gimbal keriting-keriting kayak foto di bawah ini (si Grace mana ya kok ga ikutan foto?).

Overall, seru sih. Karena terbiasa latihan, saya otomatis jadi suka sama gending-gending Jawa dan tariannya yang mengalir seperti air. Tarian saya sendiri sebagai raksasa cukup menguras tenaga (anggap saja olahraga yang berseni). Plus kenalan saya jadi tambah banyak pastinya (sekarang banyak yang udah diwisuda lho, selamat!). Apalagi bisa ngeksis di hadapan massa kampus *walau muka amburadul* di atas panggung Aula Barat. Begitulah. Seusai acara, kami anak-anak baru 2007 akhirnya dilantik. Ditandai dengan pemberian pin PSTK (hiks, tapi sekarang pin-nya entah dimana) dan penguntaian bunga melati. Akhirnya, resmilah saya tergabung dalam unit ini. Unit yang 90% anggotanya mampu berbahasa Jawa sementara saya roaming total. Hehehe.

(to be continued... biar ga terlalu penuh :p)

Sabtu, 10 April 2010

Next Trip: Karimun Jawa





Ini rencana saya pada akhir semester ini: jalan-jalan ke Kepulauan Karimun Jawa!! :)

Karimun Jawa adalah suatu kepulauan yang terletak Laut Jawa dan termasuk ke wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lihat fotonya, pantainya cantik banget kaan? (emerald blue!). Tak hanya pantainya, Karimun Jawa juga konon memiliki panorama bawah laut dengan terumbu-terumbu karang yang sangat cantik dan relatif masih terjaga kelestariannya. Selain itu, di pulau ini juga terdapat tempat penangkaran hiu lho.. dan kita bisa berenang bersama hiu-hiu polos itu.

Ah, saya benar-benar harus menabung demi perjalanan yang ini! (walau saya mau ke sana a la backpacker sih.. namanya juga mahasiswa)

Ga sabar deh saya bermain di pantainya, snorkeling, diving, renang sama hiu, dan makan ikan bakar. Hehe. Semoga benar-benar bisa terlaksana, AMIN :D

Minggu, 28 Maret 2010

R-A-F-T-I-N-G


Rafting a.k.a arung jeram adalah salah satu *1000 things to do before I die* saya (walau belum saya tulis dalam post sebelumnya).

Dan, akhirnya kemarin saya berhasil mewujudkan keinginan saya itu (lihat foto saya, itu saya yang sempat-sempatnya membuat tanda peace di saat harusnya teriak-teriak).

Rafting ini sebenarnya adalah acara himpunan saya untuk seluruh angkatan SBM. Tapi yang akhirnya bisa ikut cuma sekitar 60an anak. Kita kumpul pagi-pagi di gerbang depan lalu menuju TKP dengan menumpang bis Patriot. Lokasi raftingnya di Sungai Palayangan, daerah wisata Situ Cileunca, Pangalengan. Kurang lebih sekitar satu jam setengah mendaki gunung lewati lembah sebelum akhirnya kita sampai di sana.

Saya pribadi merasa sangat excited. Tegang karena ga tau apa-apa tentang per-rafting-an sekaligus penasaran dengan sensasinya. Kata pemandunya, tingkat kesulitan di sungai ini adalah grade 3 (sebenarnya saya ga ngerti, tapi mari kita asumsikan bahwa angka itu cukup menunjukan tantangan). Kami semua di bagi dua kelompok: kelompok rafting I dan rafting II. Dan saya masuk kelompok I, yang berarti kelompok saya mendapat giliran rafting pertama sementara kelompok dua ber-flying fox dulu. Di kelompok satu ini juga dibagi menjadi 5 orang per perahu karet. Saya seperahu dengan Gracia, Bibil, Ashra, dan Luthfi. Pemandu kami namanya Pak Jeber.

Sebelum benar-benar nyemplung di sungai, kami semua diberikan instruksi keselamatan, mendayung dan memposisikan diri di Danau Cileunca. Setelah itu baru kami menuju TKP yang sesungguhnya yang berlokasi di seberang danau. Posisi saya di perahu karet adalah di bagian paling depan sebelah kanan. Dan Alhamdulillah, cuaca cukup cerah.

Menurut pemandu kami, ada beberapa jenis jeram di sungai ini. Ada jeram pembuka, jeram domba, jeram kecapi, de el el. Tak lama setelah perahu karet kami nyemplung di sungai, jeram pembuka langsung menyambut. Dan kami semua membalasnya dengan teriakkan HWAAA!!
Wow, seruuu!! Apalagi pemandangan kanan-kiri sungai dihiasi hutan pinus yang cantik. Air sungai yang dingin juga terasa segar sekali di kulit.

Tapi jeram pembuka masihlah awal dari jeram-jeram lain yang lebih deras dan curam Belum ada 15 menit, saya sudah menjatuhkan dayung saya. Soalnya saat itu perahu karet menabrak batu tepat di sebelah kanan saya dan reflek saya langsung menyelamatkan tangan kanan saya dengan melepas dayung dong. Hehe, panik juga sih. Dan semakin jauh, semakin banyak bebatuan besar pula. Perahu karet kami sampai berkali-kali nyangkut di batu.

Ketika kami diberi waktu beristirahat sejenak saat tiba di aliran sungai yang tenang, ketauan deh kalo perahu karet kami gembos di bagian belakang. Terpaksa, hanya boleh 4 orang termasuk pemandu yang menaiki kapal itu. Tersisalah saya, Gracia, Ashra, dan Pak Jeber. Yang lain pindah ke perahu karet lain. Perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Dan, tidak ada pengalaman yang lebih mendebarkan daripada jatuh ke sungai! Dan jatuhnya pun bukan saat melewati jeram. Tapi ketika perahu karet kami menabrak perahu karet lain sehingga posisi perahu karet kami menjadi miring 90 derajat dan saya yang berada di ujung kanan mau ngga mau jatuh sendirian ke sungai. Sebelum jatuh, saya sempat berpegangan ke tali yang berada di perahu. Tapi arus deras yang mendorong saya terus-menerus dengan kencang plus saya ga bisa nafas karena sebagian wajah saya terendam air, membuat saya sempat berpikir untuk melepas tali. Tapi karena saya ga jago berenang, apalagi di arus deras, akhirnya saya tetap berpegangan.

Pemandu ga bisa langsung menyelamatkan saya, karena posisi perahu kami yang miring dan nyangkut di perahu lain. Saat posisi perahu berhasil kembali datar, perahu langsung terseret arus, dan saya yang masih megap-megap sempat menabrak batu di belakang saya. Saat jatuh itu, saya merasakan banget deh yang namanya ketidakberdayaan. Alhamdulillah, pada akhirnya saya berhasil diangkat kembali oleh Pak Jeber ke dalam perahu. Hanya sepatu saya yang hanyut dan punggung saya yang linu-linu. Plus saya menelan cukup banyak air saat terjatuh.

Dengan masih sedikit shock, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju jeram-jeram lain. Dan ketika perjalanan hampir usai, saya dua kali dijatuhkan lagi dari perahu karet. Kalo kali ini sih sengaja oleh instrukturnya. Jadilah saya memegang rekor paling banyak jatuh ke sungai hari itu, walau tentu yang jatuh beneran itu yang paling mendebarkan.

Rafting kali itu memakan waktu total sekitar satu setengah jam. Setelahnya, giliran kelompok kami yang ber-flying fox membelah sungai. Ada 3 gaya. Gaya biasa (sambil berpegangan), gaya superman (you knowlah kayak gimana), dan gaya kalong (kepala dibalik). Kalo saya sih nyoba yang gaya superman. Cukup seru juga, berasa terbang beneran :)

Sekitar pukul 3 akhirnya acara ditutup. Harusnya sih masih ada acara penanaman pohon bersama, tapi berhubung tiba-tiba hujan deras banget akhirnya dibatalkan deh. Kami langsung pulang ke Bandung (dan karena sepanjang perjalanan banjir, kami baru tiba di Bandung jam 6).

Btw, thanks to Divisi Kesra KMSBM yang udah jadi event organizer. Yesterday was very very fun :)

Selasa, 23 Februari 2010

My Favorite Stuff #1 : Ringo

Oke, sebenernya gw baru memutuskan dua menit yang lalu bahwa namanya adalah Ringo.
Kenapa namanya itu?
Tidak lain dan tidak bukan adalah karena Ringo merupakan sebuah gadget keluaran Apple (ringo itu apel dalam bahasa jepang).
Oh tentu saja Ringo bukanlah iPhone secara gw ga punya duit buat ngebeli hand phone mahal itu. Bukan pula Macbook, apalagi iPad.
Ringo yang gw maksud adalah iPod nano 2 GB keluaran tahun 2005 yang dibelikan ortu gw pas kelas 2 SMA. Desainnya yang langsing tipis serta kualitas suara yang tajam adalah keunggulan utama dari iPod ini. Apalagi warnanya yang hitam metalik sungguh elegan. Dan yang paling penting, untuk jenis orang destroyer macam gw, Ringo adalah satu-satunya gadget milik gw yang awet selama lima tahun ini lho (selamat buat gw!).
Jadi inget, pas pertamakali ngebelinya pun Ringo sudah tertimpa musibah. Waktu itu gw menitipkan Ringo di counter penitipan Gramedia sementara gw ongkang-ongkang kaki nyari komik. Terus, dengan pintarnya gw lupa begitu saja dan melenggang pulang ke rumah... masalahnya, Gramedia-nya di Tangerang dan rumah gw di Cilegon! (mana gw ingetnya pas udah nyampe rumah pula).
Yah untungnya ada tante gw yang tinggal di Tangerang dan bisa dititipin untuk ngambil Ringo (makasih tante). Akhirnya kami dipersatukan kembali deh :">

Meski sekarang Ringo udah compang-camping dan cacat di mana-mana, tapi Ringo masih setia mengabdi (bahkan earphone aslinya udah menghilang dan chargernya telah RIP sejak tiga tahun yang lalu). Sekarang tiap hari Ringo gw bawa ke kantor lho buat nemenin magang (dan berguna banget untuk jadi flash disk dadakan) :)

I love you, Ringo (heart)

(gambar akan disertakan nanti)

Senin, 22 Februari 2010

Lavender



Entah komik apa yang gw baca zaman SD dulu, tapi lavender (terutama padang bunga lavender) memiliki sisi emosional sendiri buat gw.

Berhubung gw adalah orang yang romantis, tadi gw sampe searching bahasa bunga-nya lavender. Nah ternyata arti bunga ini adalah:

Lavender : devotion, distrust

Bunga lavender rupanya melambangkan pengabdian serta kecurigaan. Ibarat seorang istri yang curiga kalau suaminya berselingkuh tapi tetap dengan setia memasakan makanan setiap hari untuk suaminya itu :">

Searching singkat tadi juga membawa gw ke wilayah Provence, Prancis yang menjadikan padang bunga lavender ini sebagai objek wisata yang menarik turis. Selain itu ada juga Furano Flower Fields di Jepang yang juga memiliki padang lavender yang sangat cantik :)

Oh dan tak lupa, lavender sangat berkhasiat untuk mengusir nyamuk...

Minggu, 21 Februari 2010

The Naked Traveller series


Well, salah satu jenis buku favorit gw adalah buku tentang petualangan jalan-jalan. Apa boleh buat, karena keterbatasan dana, saat ini gw cuma bisa jalan-jalan lewat pengalaman orang lain yang dituliskan dalam buku.
Dan salah satu buku jalan-jalan terbitan Indonesia yang paling menarik adalah *jreng jreng* tak lain dan tak bukan bisa Anda lihat sendiri di gambar di samping ini.
The Naked Traveller adalah sebuah buku nonfiksi yang ditulis berdasarkan sebuah blog milik seorang cewek cuek dan cool (menurut sudut pandang gw) bernama pena Trinity (setelah gw searching, baru tau kalo nama asli dia Perucha Hutagaol).
Kekuatan utama buku ini terletak gaya bercerita Trinity yang ceplas-ceplos serta petualangan-petualangan dia yang memang ga biasa. Hello~ berapa sih jumlah orang Indonesia yang berminat berenang di Pantai Nudist tanpa sehelai benang pun? Atau jalan-jalan di negara-negara unknown seperti Republik Palau?
Seperti yang ia jelaskan di bukunya, Trinity yang dulunya berprofesi sebagai 'mbak-mbak kantoran' ini memang hobi backpacking ke tempat-tempat yang belum terkenal tapi memiliki potensi pariwisata luar biasa. Memang sih, tempat-tempat yang belum komersial kebanyakan masih terjaga keindahan alaminya, seperti yang ia ceritakan di beberapa chapter buku ini.
Oh, dan Trinity juga banyak menceritakan pengalamannya dengan olahraga extreme, seperti bungee jumping dari gedung sekian ratus meter atau menyelam bersama ikan hiu raksasa. Tak lupa, terdapat tips-tips berharga untuk orang-orang culun macam gw yang belum pernah melaksanakan niat backpacking-nya dengan serius :p
Gw juga sangat menyukai selera humor Trinity yang sangat tampak pada petualangan-petualangannya. Dan jangan tanya betapa gw mengagumi kecuekannya (FYI, dalam volume 2 The Naked Traveller, Trinity secara terus terang mengaku bahwa ia adalah wanita gendut bersemangat yang ga peduli terhadap pandangan orang).

I'm not going to tell you the stories, it's better to read it yourself.. yang jelas gw ngakak-ngakak tiap ngebaca kisah-kisah Trinity ini :D