Selasa, 09 Maret 2010

Things to Do Before I Die #1

Terinspirasi oleh sebuah judul buku (kalau ga salah judulnya 1000 things to do before you die), saya ingin membuat daftar hal-hal yang ingin saya lakukan sebelum saya meninggal dunia.
Hehe, mungkin agak tabu ngomongin meninggal dunia segala, tapi siapa sih yang bisa menebak umur?
Karena itu, saya ingin melakukan banyak hal sebelum saya dipanggil Yang Maha Kuasa :)
1. Khatam Al-Qur'an (malu deh umur segini belom khatam juga)
2. Mengendarai mobil sendiri
3. Mengendarai motor sendiri
4. Berhasil mengambil boneka di mesin pencapit boneka
5. Bermain layangan
6. Mengecat rambut dengan warna merah
7. Merajut syal
8. Membuat cake
9. Mempunyai official website sendiri
10. Bernyanyi solo di depan orang-orang
11. Nonton di studio Premiere
12. Mengunjungi 5 benua
13. Diving
14. Belajar Bahasa Prancis
15. Belajar Bahasa Jerman
16. Belajar Bahasa Belanda
17. Belajar Bahasa Jawa Kromo Inggil
18. Belajar menari Gambyong
19. Memainkan lagu Canon in D dengan biola
20. Memainkan sebuah lagu dengan piano (plus akor-akornya)
21. Menonton konser internasional
22. Naik haji
23. Menonton 5 film panjang dalam 1 hari
24. Makan lobster
25. Mempunyai perusahaan sendiri
26. Memerah susu sapi
27. Mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia
28. Tidur di bawah bintang
29. Backpacking
30. Ber-safari di Afrika
31. Menonton pertunjukan sirkus
31. Menonton pertunjukan orkestra di gedung tua Eropa
32. Menonton pertunjukan balet
33. Piknik di bawah pohon sakura
34. Menulis buku
35. Menulis surat cinta dan memberikannya pada seseorang
36. Mendesain baju sendiri
37. Menanam pohon
38. Tinggal di pedesaan tak berlistrik
39. Berdansa dengan seorang pria
40. Wisuda
41. Kuliah di luar negeri
42. Menikah dengan orang yang dicintai
43. Melahirkan anak
44. Mengunjungi kebun bunga lavender
45. Bulan madu di pulau terpencil
46. Mengunjungi panti asuhan
47. Mengunjungi 7 keajaiban dunia
48. Bermain salju
49. Menonton pertandingan Piala Dunia live
50. Mengirim orangtua naik haji dengan uang sendiri
(to be continued)

Minggu, 07 Maret 2010

Gading-Gading Ganesha (Bahwa Cinta Itu Ada)

Gading-Gading Ganesha a.k.a Bahwa Cinta Itu Ada jelas bukanlah suatu film yang patut diacungi jempol. Skenario yang dangkal, alur cerita yang berantakan, akting yang kaku, adegan-adegan yang absurd.. walau temanya cinta dan persahabatan, tapi saya sama sekali tidak menangkap chemistry dari kedua hal tersebut.
Dan rasanya satu studio (yang saya yakin isinya anak ITB semua) setuju bahwa film yang disutradarai oleh Sujiwo Tejo itu jauuuuhhh sekali dari ekspektasi kami. Oh well, saya rasa ekspektasi kami memang terlalu tinggi. Apa sih yang bisa diharapkan dari film perdana seorang sutradara yang biasanya menyutradarai pewayangan? (well, bukannya menyutradai pewayangan itu mudah.. tapi kedua bidang tersebut sangat berbeda kan?)
Yah, saya cukup senang melihat kampus saya di layar lebar.. plus nama PSTK yang disebutkan di salah satu adegan tentunya. Saya pernah mendengar, Sujiwo Tejo ini memang sempat menjadi anggota PSTK sebelum keluar dan mendirikan unit kebudayaan Ludruk.
Bagian lain yang saya sukai dari film ini mungkin beberapa lagu pengisinya. Seperti lagu yang dinyanyikan cewek berbaju merah di sebuah adegan di restoran dan sebuah lagu lama Sujiwo Tejo yang dinyanyikan ulang oleh Ario Wahab dan Sita RSD dengan judul baru "Selamat Datang Cinta" (lagu aslinya berjudul Anyam-Anyaman Nyaman.. ini lagu lamaa bangett, mungkin lagu zaman saya masih pake rok merah).

Overall, sayang sekali.. lebih baik menunggu film ini di ftp rileks :)

Rabu, 03 Maret 2010

Reflection #1

Jadi, tadi saya membuka e-mail SBM saya dan menemukan sebuah artikel bagus yang dikirim oleh Pak Togar (beliau ini dosen mata kuliah operation). Inti artikel tersebut adalah mengenai seorang mantan karyawan Bank BCA yang beralih profesi menjadi entrepreneur.

Dalam artikelnya tersebut, beliau menceritakan bahwa ia beralih profesi menjadi entrepreneur bukan karena alasan-alasan semacam gaji karyawan yang dianggap kurang, dendam pada atasan, tidak ada pilihan lain, dan sebagainya seperti yang banyak digembor-gemborkan para entrepreneur sebagai alasan bagus untuk tidak menjadi karyawan.

Beliau justru sangat menikmati profesinya di bidang IT bank swasta tersebut.

Yang membuat beliau memilih keluar adalah sebuah alasan simpel bernama 'panggilan hati' yang membuatnya harus memilih diantara hobi yang selama ini ia jalani dengan pekerjaan yang ia lakoni. Tidak ada yang salah pada BCA, karir beliau pun cukup bagus.

Beliau tidak setuju mengenai anggapan bahwa "kalau mau cepat kaya jadilah entrepreneur, kalau mau miskin seumur hidup jadilah karyawan" karena rezeki masing-masing orang sudah diatur oleh Tuhan. Dan TUHAN, Yang Maha Kaya sama sekali tidak dapat diukur dengan “besar-kecilnya” gaji yang diperoleh oleh karyawan di perusahaan tempatnya bekerja, karena rejeki yang IA siapkan tidak terbatas bagi masing-masing orang.

Beliau juga menambahkan bahwa tidak ada alasan untuk tidak berbangga menjadi seorang karyawan/kaum profesional apalagi seorang karyawan yang sungguh-sungguh profesional. Dan sama sekali tidak ada alasan bagi kaum enterpreneur untuk membusungkan dada dan memandang rendah mereka yang berada di quadrant lain. Kaum entrepreneur pun sesungguhnya sangat membutuhkan bantuan dari para kaum professional dalam menjalankan bisnisnya.

Di akhir artikelnya, beliau juga menambahkan suatu nasehat bijak yang ia dapatkan dari seorang temannya:

“Yang jelas dimanapun kita berada dan apapun status kita, selalu berikan yang terbaik. Jika kita kebetulan sebagai karyawan, berikan yang terbaik dan berdoalah selalu bagi perusahaan tempat kita bekerja. Jika kita adalah enterpreneur, berikan yang terbaik untuk karyawan kita dan untuk client-client kita, maka rekaman-rekaman tak kasat mata dalam hidup ini akan mencatat secara sangat detail semua sumbangsih kita, kemudian menunggu waktu tepat untuk membalaskan kepada kita semuanya itu. Bukan berdasarkan golongan enterpreneur atau karyawan, tetapi seberapa tulus kita memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Karena TUHAN pemilik kehidupan ini tidak pernah membiarkan diri-NYA berhutang kepada siapapun !”


Memang ya.. hidup pasti lebih indah jika kita pandai bersyukur dan mengarungi kehidupan yang sedang kita jalankan dengan sebaik-baiknya**

Selasa, 02 Maret 2010

Read This, Read That


Oke, jadi ceritanya di kamar kosan gw lagi numpuk buku-buku menanti sentuhan lembut tangan gw untuk membuka lembar demi lembar halamannya.
Kalo lagi ke toko buku, gw emang suka laper mata. Ada yang *cling* dikit, langsung pengen baca. Apalagi kalo belinya barengan Ayahanda tercinta (tentu karena jatuhnya jadi dibayarin :p).
Tapi gini nih, ujung-ujungnya malah ga tau kapan sempet ngebacanya. Apalagi belakangan ini kalo nyampe kosan pasti udah capek, bawaannya pengen cepet tidur atau ngerjain tugas-tugas (haha<-- ini ketawa miris).

Dan inilah daftar buku yang harus gw baca (haruslah, udah dibeli masa cuma untuk dipajang) :

1. Midnight Children

Gw beli buku ini karena tertarik dengan nama pengarangnya, Salman Rushdie. Itu lho, pengarang yang kena fatwa hukuman mati karena dianggap menghina umat Islam lewat buku The Satanic Verses (btw, Salman Rushdie sendiri beragama Islam). Selain itu, seperti yang tertulis di resensinya, Midnight's Children telah memenangi berbagai penghargaan internasional (biasanya jadi jaminan mutu). Ceritanya sendiri berkisar tentang kehidupan sosial masyarakat di India.

2. Tipping Point-Blink-What the Dog Saw
Ketiga buku ini dikarang oleh orang yang sama, yaitu Malcolm Gladwell. Setelah ngebaca Outliers yang juga dikarang oleh Mr.Gladwell, gw jadi sangat menyukai pemikiran-pemikiran beliau yang selalu memandang suatu hal dari sisi lain yang sangat berbeda. Jadi membuka wawasan banget deh :)

3. Kota Lama, Kota Baru
Sejarah adalah salah satu pelajaran yang gw suka waktu SMA, nilai gw ga pernah di bawah 90 lho (sombong). Iya, emang gw suka sejarah dan gw juga suka bangunan dan kota tua yang klasik. Makanya gw beli buku ini deh.

4. The Zahir
Kalo buku ini sih gw pinjem dari anak PSTK 2009, Christina. Ternyata dia juga suka Paulo Coelho. Gw baru membaca beberapa novel beliau sih, kayak The Alchemist dan Veronica Decides to Die. Tapi gw suka dengan cara khas Mr. Coelho menyampaikan makna dari novel-novelnya; menggunakan berbagai perumpamaan, unik, dan menyentuh.

I think I need more spare time~ !

Jatuh Cinta

Bukan, gw bukan lagi jatuh cinta.
Gw cuma merasa efek jatuh cinta (atau kita kira kita sedang jatuh cinta) ternyata luar biasa ya.

Jadi ceritanya, duluuuu gw pernah naksir seseorang.
Dan pokoknya di mata orang yang sedang jatuh cinta, orang yang disuka pasti kelihatan beberapa kali lipat lebih ganteng dari aslinya. Setiap kekurangannya jadi kelebihan, semua ucapannya seperti mantra yang menghipnotis (lebay), dan yeah, those butterflies-in-the-stomach effect. Kayaknya setiap orang yang merasa jatuh cinta merasakan yang semacam itu deh.

Tapi, biasalah naksir-naksiran gitu bosennya juga cepet (mungkin karena naksir diem-diem doang). Ga ada angin, ga ada hujan.. eh tau-tau perasaannya jadi netral aja. Dulu yang selalu deg-degan tiap si dia berjarak hanya semeter dari kita, sekarang jadi biasa aja. Lebih enak malah, soalnya kalo deg-degan pikiran jadi blank. Mau ngomong tapi berasa mulut dijahit. Kalo udah biasa aja, malah bisa lebih banyak yang bisa diobrolin tanpa dikit-dikit panik takut ada kata-kata yang salah.

Yah, berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita-cerita temen gw, saat lagi naksir seseorang kita biasanya jadi lebih sensitif terhadap segala tingkah laku orang yang kita taksir. Dikit-dikit kita ngerasa, 'tadi kayaknya ucapan gw salah deh.. harusnya gw bisa lebih bla bla bla'.
Setiap ada kata-kata dia yang kebetulan 'menusuk' langsung bikin kita jadi serba salah dan sedih. Dan setiap dia deket sama cewek lain dan tampak 'mesra' (sebenernya mesranya cuma di mata kita doang), kita langsung berprasangka macam-macam. Wow, nano-nano banget (atau mungkin itu efek dari perasaan insecure terhadap diri sendiri kali yaa)

Dan saat sudah biasa saja dan jadi lebih dekat sebagai temen, gw jadi berpikir. Andai gw deket kayak gini pas duluuuu gw masih naksir... mungkin gw udah melayang tinggi berbunga-bunga di atas awan. Hahaha, berasa lucu deh :)

Senin, 01 Maret 2010

Suatu Kuliah di Pagi Hari :)

Ini cerita tentang salah satu kuliah gw di SBM, yaitu Religious Study alias pelajaran Agama. Beda dengan jurusan lain sesama ITB yang pelajaran agamanya benar-benar berdasarkan agama yang dianut, kalo di SBM pelajarannya jadi lebih general.
Maksudnya, kita lebih mempelajari tentang issue-issue yang berkaitan dengan masalah kepercayaan. Kayak tentang euthanasia, bunuh diri, dan lain-lain. Cukup menarik sebenernya kalo pelajarannya dibawa sesuai konteks.

Minggu lalu, kebetulan dosen tamu yang mengajar pelajaran ini. Dan karena gw terlambat 15 menit, gw ga tau namanya. But, he's Ph.D holder from university in Japan, so he must be very smart or something. Yah, pokoknya gw yang biasa males-malesan denger kuliah Religious Study (hehe), hari itu jadi cukup serius mendengarkan beliau berbicara (berhubung cara penyampaiannya juga bagus)

Ini poin-poin yang masih terngiang-ngiang di kepala gw (yang masih gw inget untuk dituangkan dalam blog ini plus gw tambahin opini pribadi tentu saja)


1. Pentingnya Mempercayai Tuhan

Seperti yang udah kita ketahui, Jepang yang merupakan salah satu Macan Asia, adalah sebuah negara yang maju nan kaya. Pendapatan per kapitanya termasuk yang paling tinggi se-Asia. Dan siapa yang ngga kenal produk Jepang macam Sony, Toyota, atau Honda?

Dosen gw cerita, para pekerja di Jepang itu masuk kantor jam 8 pagi dan pulang paling cepat jam 12 malam (ini mah namanya kerja rodi ya?). Tapi memang sih gajinya kalau dirupiahkan bisa sampai sekian ratus juta per bulan. Tapi, apa gunanya sih kalo punya uang banyak tapi ga punya waktu luang? Kapan menikmati uangnya? Mana tingkat persaingan di sana bisa dibilang cukup sangar pula.

Oleh karena itu tidak mengherankan tingkat depresi di Jepang bisa dibilang sangat tinggi. Kalo ga salah denger, bahkan angka bunuh diri di negara itu bisa mencapai 400 ribu orang (entah per bulan atau per tahun, gw lupa.. kayaknya sih per tahun). Kalo baca komik-komik samurai, memang bangsa Jepang ini punya budaya bunuh diri yang telah mengakar.. entah lewat seppuku atau harakiri, demi menjaga kehormatan mereka setelah melakukan kesalahan atau kegagalan (yah walau sumbernya dari komik, tapi cukup memberikan gambaran sepintaslah, secara orang Jepang kalo bikin komik juga pake referensi).

(Hmm... coba para koruptor di Indonesia punya rasa gengsi setinggi orang Jepang, mungkin tiap hari isinya berita bunuh diri terus :p)

Kata dosen gw itu lagi, andai bangsa Jepang lebih percaya kepada Tuhan, mungkin mereka ga akan semudah itu memilih jalan bunuh diri ketika mereka depresi atau melakukan kegagalan. Jika mereka percaya masih ada dunia lain setelah kematian, masih ada surga dan neraka, mungkin mereka ga akan segampang itu loncat dari atap gedung.

Mereka memang memiliki agama resmi sih, yaitu Shinto. Tapi kalo kata temen gw yang kakaknya kuliah di Jepang, Shinto itu sendiri lebih merupakan "budaya", bukan "agama". Budaya adalah hasil kreasi akal manusia, sementara agama berasal dari kekuatan lain Yang Maha Besar. Dan orang Jepang paling cuma ke kuil setiap tahun baru atau saat ada perayaan tertentu. Agama tidak menjadi landasan hidup mereka.

Padahal kan kalo kita punya agama kita bisa mengeluhkan segalanya pada Tuhan. Pada Allah SWT. Lagi depresi pun, kita selalu punya tempat mengadu dan bersandar sehingga kita ga perlu sampai putus asa dan bunuh diri segala. Meski wujud nyata-Nya tidak bisa dipertanyakan, keberadaan-Nya terasa di hati, lebih dekat daripada urat nadi.

(bersambung)