Senin, 31 Mei 2010

Playing Around


picture is taken from tumblr.com

Diam-diam, ternyata sudah lamaaa sekali lho saya tidak pergi ke taman hiburan seperti Dunia Fantasi (Dufan).
Terakhir mungkin ketika saya masih kelas 1-2 SD. Wow, lebih dari sepuluh tahun yang lalu cuy! Masih ada foto-foto saya dan keluarga di Dufan terakhir kalinya; saya masih imut dengan poni rata dan baju kodok. Masih ada pula selintas ingatan tentang Rumah Boneka, Puppet Show, dan termos minuman yang ibu saya bawa (entah mengapa membekas di pikiran saya). Sisanya saya lupa sama sekali. Tapi kesan saya sih di sana menyenangkan (walau saya ngga nyoba wahana-wahana ekstrimnya).
Oh iya, dan saat saya masih kelas 4-5 SD, saya juga pernah bermain di Taman Ria Senayan yang sekarang sudah tinggal nama. Yang paling saya ingat, di sanalah pertamakalinya saya naik jet coaster. Dan jet coaster- jet coaster berikutnya hanya pernah saya lakukan di arena permainan Lippo Karawaci.

Hehe, cupu yaaa... makanya lain kali ajak saya ke Dufan dong :)

Minggu, 30 Mei 2010

Nodame Cantabile


Nodame Cantabile adalah salah satu komik favorit saya sepanjang masa. Ceritanya berpusat pada kehidupan Noda Megumi (Nodame), seorang mahasiswi jurusan piano yang sebenarnya seorang jenius tapi karena satu dan lain hal ia tidak pernah benar-benar serius pada pianonya itu. Dan bertemulah ia dengan Shinichi Chiaki, seorang tuan muda yang juga jenius musik tapi berkarakter sombong dan perfeksionis. Sementara Nodame sendiri adalah seorang wanita serampangan dan cenderung aneh (sebenarnya karakter Nodame ini agak-agak mencerminkan diri saya :p).

Begitulah. Komik ini menceritakan hubungan aneh antara Nodame dan Chiaki dan bagaimana kehidupan mereka berubah setelah bertemu. Dari Chiaki yang phobia kapal dan pesawat tapi berkat "hipnotis" Nodame akhirnya ia berhasil pergi ke Eropa dan mengejar karir sebagai conductor. Dan juga Nodame sendiri yang pelan-pelan mulai menseriusi pianonya.

Komik ini lucu, sangat lucu. Selintas melihat gambarnya mungkin tidak terlalu menarik, tapi percayalah, komik ini sangat recommended. Nodame Cantabile tamat di no.23 dan di Indonesia sendiri sudah terbit nomor 22-nya. Tapi menurut kabar yang saya dengar, komik ini masih memiliki sekuel dengan judul Nodame Cantabile-Opera Hen. Dan tidak lupa, komik ini juga sudah dibuat versi dorama-nya yang cukup konyol (Hiroshi Tamaki yang berperan sebagai Chiaki ganteng banget >.<)

Ah, tak terasa sudah lebih dari lima tahun saya mengoleksi komik ini :)

Jumat, 28 Mei 2010

Internship Experience

Berhubung teman-teman 2007 saya dari jurusan lainnya di ITB lagi rame-ramenya ngurusin kerja praktek, saya jadi ingin menulis kembali pengalaman magang saya di PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Eh tapi pernah sih saya sekilas menulis tentang suatu kejadian konyol di tempat kerja, nih ada di sini. Dan kayaknya saya juga udah pernah nge-post tentang laporan magang yang sohor itu.

Saya mengambil program magang di semester panjang (kalo yang lain biasanya ngambil kerja praktek saat libur panjang semester genap kayak sekarang). Peraturannya, saya magang dari hari Senin-Rabu selama tiga bulan. Jam delapan pagi hingga lima sore. Sementara hari Kamis-Jum'atnya saya kuliah seperti biasa. Banyak lho teman saya yang ngambil magang di Jakarta dan mereka terpaksa harus bolak-balik Jakarta-Bandung setiap minggunya. Yah kalau dipikir-pikir, Bandung kan memang bukan pusat perkantoran. Tidak banyak perusahaan besar yang berpusat di kota ini. Tapi kalau saya ambil magang di Jakarta, ya berat di badan dan berat di ongkos. Masa saya jadi harus punya dua kosan.

Di Telkom Japati ini, saya magang bareng tiga teman SBM lainnya. Kiki, Siska, dan Nyanya. Tapi kita semua ditempatkan di divisi yang berbeda-beda. Saya di bagian Compliance and Risk Management, Kiki di Finance, Siska di Marketing, dan Nyanya di Product Development. Tapi Siska dan Nyanya ditempatkan satu lantai di lantai 6, bahkan tempat duduknya berdampingan. Sementara bagian Finance-nya Kiki ada di lantai 3.

Saya? Direktorat CRM ada di lantai tujuh. Lebih spesifiknya sih, saya ditempatkan di bagian Assessment. Berkat mata kuliah Business Risk and Venture Capital yang pernah saya ambil, saya memang jadi tertarik dengan bidang Manajemen Resiko ini. Makanya saya minta ditempatkan di bagian ini (by the way saya bisa magang di sini karena koneksi pacar kakak saya).

Tapi menyedihkannya, saya ngga dapet meja sendiri. Saya nomaden saja. Kadang duduk di kursi tunggu, kadang di meja karyawan yang lagi ga masuk, kadang di ruang rapat. Yah kemana pun angin berhembus, saya ikut.

Di sini saya dibimbing oleh seorang mentor, namanya Pak W (nama asli disamarkan biar lebih etis :p). Dan Pak W ini memerintahkan bawahannya, Pak R, untuk menjadi pengawas saya. Beliau baru di divisi ini dan juga hidup nomaden karena belum mendapatkan meja kosong. Dan seringnya, Pak R dan saya (yang terpaksa harus diajak juga) terdampar di ruang rapat. Hikmahnya, justru karena saya ga punya tempat duduk sendiri, saya jadi sering diajak ikutan rapat-rapat internal mereka. Hehe.

Dulu saya kira rapat kantoran pasti serius-serius gitu. Tapi ternyata ngga juga kok. Bapak-bapak itu banyak yang hobi bercanda di tengah rapat--tapi tentu di saat yang tepat. Dan mereka juga sangat kritis terhadap permasalahan yang dipaparkan di rapat. Jadi, rapat berjalan dengan santai tapi serius. Dan di setiap rapat, pasti selalu ada kue-kue yang enak. Plus abis rapat biasanya selalu dapet makan siang yang enak. Malah kadang-kadang saya juga diajak untuk makan siang rame-rame di luar lho, ditraktir tentunya :)

Oh ya, bapak-bapak ini juga tampaknya mengenal dengan sangat baik perusahaan tempat mereka bekerja. Pernah dong pas saya lagi menanyakan tentang kebijakan perusahaan, bapak mentor saya langsung menyuruh saya membuka policy perusahaan sekaligus ngasih tahu halaman berapanya. Bapak pengawas saya juga sama seperti itu. Wow, daya ingatnya bagus sekali yaa 0_0

Dan saat awal-awal masuk magang, saya masih serajin itu. Berangkat jam tujuh teng karena takut terlambat. Kalo nyampenya kepagian, saya biasa sarapan dulu di warung kupat tahu di samping Telkom. Serius deh enak banget kupat tahu-nya. Oh iya, di depan Telkom situ juga ada yang jualan jus buah yang enak. Terus letak Telkom ini strategis banget; deket Saribundo, deket RM Ciganea, pokoknya banyak sumber-sumber makanan enak di dekat kantor. Ah, kok jadi ngomongin makanan.

Back to the topic. Setelah sekian lama cukup rajin datang di bawah jam delapan, lama-lama saya jadi makin telat ngantor. Sampai-sampai pernah saya terlambat setengah jam. Yah, tapi emang di sananya saya juga ngga banyak kerjaan sih. Kebanyakan tugas saya ya belajar dan mencicil tugas akhir. Kadang juga diminta presentasi tentang topik tugas akhir di hadapan bapak-bapak se-divisi. Seneng sih, saya jadi dikasih banyak feedback. Tapi yah.. sejujurnya sih seringnya saya ngerasa bosaaaannn kalau kerjaannya cuma stay di depan laptop selama delapan jam setiap harinya. Bosen disuruh baca-baca melulu. Tapi kata pengawas saya, begitulah pekerjaan orang di CRM saat ini. Belajar lebih dalam mengenai manajemen resiko untuk perusahaan.

Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah tentang jurnal harian magang yang harus dibuat setiap harinya. Pertama kali mengumpulkan, saya langsung ngumpulin jurnal untuk sebulan. Eh, ditolak. Katanya format saya kurang oke dan beliau memberikan contoh format jurnal dalam bentuk tabel-tabel. Oke, lalu saya buatlah dengan format baru itu. Dan ketika saya kumpulkan lagi di akhir bulan kedua... jreng-jreng, ternyata saya harus ubah format lagi. Katanya, keterangannya kurang jelas. Padahal waktu itu saya lagi ada tugas-tugas lain selain tugas bikin jurnal. Dan saya harus ulangin lagi tugas jurnal-menjurnal yang absurd itu (ini tugas memang tujuannya hanya untuk melengkapi 168 halaman persyaratan minimal laporan magang). Ow ow -______________-

Yah, mungkin begitulah dunia kerja. Harus siap terus-menerus dikoreksi atasan. Dan dengan segala kejenuhan lainnya di tempat kerja, banyak teman saya jadi benar-benar meneguhkan hati menjadi entrepreneur ketimbang kerja kantoran.

Secara keseluruhan, dunia kerja memang berbeda dengan dunia kuliah. Kerasa aja lebih individualistis. Dan sekali lagi, bosan rasanya hidup dalam lingkup yang sempit. Apalagi saya tidak punya kerjaan yang benar-benar kerjaan profesional di sana, jadi kerasanya lebih membosankan lagi. Tapi Alhamdulillah, bapak-bapak dan sekretaris-sekretaris di sana semuanya baik-baik. Saya sering dikasih jatah makanan *duh makanan lagi*. Bahkan saya dikasih oleh-oleh waktu ada yang training ke luar negeri. Kadang juga ada yang ngajak diskusi macem-macem, dari ngomongin pemerintahan, hukum Islam, sampai curhat tentang pendidikan anaknya.

Begitulah, selintas pengalaman saya selama magang :) :) :)

Livestock and Greenhouse Gas

picture taken from here

Mungkin udah banyak yang tau juga tentang hubungan antara ternak dan gas rumah kaca.

Yap, gas yang keluar dari sendawa hewan ternak seperti sapi, kambing, dan biri-biri mengandung gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca yang bahkan lebih berbahaya daripada gas karbondioksida (CO2). Metana memiliki kemampuan memerangkap panas dua puluh kali lipat dibanding karbondioksida untuk setiap molekulnya.

Diilustrasikan, sekawanan ternak yang sedang bersendawa memiliki efek yang lebih buruk ketimbang serangkaian mobil Hummer yang menyala. Sendawa hewan ternak merupakan salah satu kontributor utama dari gas metana di bumi ini. Menurut pakar iklim, satu ekor sapi dapat menghasilkan 600 liter metana per harinya. Dan totalnya ada sekitar 1.3 miliar sapi di dunia. Baru sapi saja lho.

Bagi saya, fakta ini cukup menarik. Selama ini kita selalu bicara tentang polutan dari industri, kendaraan bermotor, dan penggundulan hutan sebagai penyebab global warming. Ternyata, dari hewan ternak pemamah biak yang sehari-hari dagingnya kita makan pun diam-diam menyebabkan ancaman untuk atmosfer kita.


source:



Holiday

Berhubung akhirnya saya liburan ini ga boleh kemana-mana sama orangtua, yasudah.. akhirnya saya purely berlibur di rumah. No Karimun Jawa, No Pangandaran, Nowhere.

Sekarang saya hidup dengan pola a la kalong pengangguran. Tidur di atas jam dua belas, bangun di atas jam sembilan. Makan minimal lima kali sehari (belum termasuk cemilan). Kalau ga nonton tivi, ya internetan atau baca komik dan buku lainnya (dari kemarin saya sedang berusaha namatin satu buku tebel yang udah saya beli dari berbulan-bulan lalu tapi masih stuck di bab kedua).




Sangat tidak produktif -_-

Ah seterusnya saya mau namatin buku, belajar photoshop, banyak-banyakin nge-post di blog (belajar nulis ceritanya walau isinya nyampah sekalipun), dan setidaknya agak-agak mencicil chapter 1-3 tugas akhir. Hehe.

Kamis, 27 Mei 2010

Big Question

Ada satu pertanyaan besar yang selalu menggantung di pikiran saya. Kenapa sih banyak orang Indonesia yang segitu bencinya sama Malaysia? Sampai-sampai ada istilah "ganyang Malaysia" segala dan berbagai ungkapan kasar lainnya.

Oke. Saya tahu tentang masalah Sipadan dan Ligitan. Saya tahu Malaysia meng-klaim beberapa budaya Indonesia seperti batik, reog, berbagai lagu daerah, dan aset-aset budaya autentik kita lainnya sebagai budaya mereka. Saya tahu. Saya juga bukannya ga tersinggung dengan sikap mereka.

Tapi, coba berkaca pada diri sendiri. Jika Malaysia tidak sembarangan meng-klaim seperti itu, apakah kita masih sepeduli itu pada budaya kita sendiri? Secara pribadi, saya selalu merasa kita itu selalu terlambat bergerak. Kita biasanya baru bereaksi setelah ada "ancaman". Baru deh kita ramai-ramai menekan pemerintah untuk mematenkan kebudayaan tradisional kita. Dan setelah itu kita asik memaki-maki negara tetangga kita tersebut tanpa berkaca pada kelemahan kita sendiri.

Dan satu pertanyaan besar lagi. Mengapa sasaran kita Malaysia? Mengapa kita tidak juga membenci Belanda yang sudah menjajah kita selama 3 1/2 abad dan membangun kemegahan di negeri mereka dengan darah pribumi Indonesia? Mengapa kita tidak membenci Jepang yang walau hanya sebentar menjajah Indonesia tapi sudah berbuat kekejaman yang tidak berperikemanusiaan? Dan mengapa pula kita tidak lebih membenci Amerika Serikat yang konon banyak ikut campur dalam perekonomian dan perpolitikan negara kita?

Tidak, saya sama sekali tidak membenci negara-negara itu. Saya hanya heran saja mengapa kita bisa sedemikian membenci Malaysia tapi kita tidak pernah sebenci itu pada negara-negara yang jelas-jelas pernah lebih merugikan kita? Apa karena semua sudah lama berlalu? Atau karena media tidak pernah menghembuskannya? Tapi rasanya bahkan kakek-kakek saya yang dulunya berperang melawan penjajah pun tidak pernah mengungkapkan kebencian seperti orang zaman sekarang dengan tenang memaki-maki Malaysia. Malah kakek saya punya menantu orang Belanda and he's fine with it. Saya juga senang-senang saja karena sepupu-sepupu blasteran saya ganteng-ganteng pisan.

Dan lalu saya teringat dengan sebuah buku berjudul "The Outliers" yang dikarang oleh Malcolm Gladwell. Di sana ada tulisan tentang semacam "index keseganan". Contoh yang diberikan sih tentang kecelakaan pesawat, di mana banyak kecelakaan terjadi karena tingkat keseganan co-pilot yang tinggi terhadap pilot mereka sehingga para co-pilot itu tidak berani memperingati pilot secara terang-terangan ketika mereka menyadari ada bahaya yang mengancam.

Dan somehow, saya berpendapat bahwa mungkin karena itulah orang Indonesia lebih bisa membenci Malaysia daripada penjajah Barat. Kita menganggap Malaysia adalah bangsa yang setara dengan kita. Kita berani jotos-jotosan sama mereka. Tapi, Amerika, Belanda, dan Jepang jelas adalah negara yang jauh lebih maju daripada kita. Kita segan terhadap mereka. Apalagi secara tidak langsung, status terjajah beratus-ratus tahun dengan disuguhi kedigdayaan negara-negara penjajah itu mungkin secara tanpa sadar membentuk mental kita untuk "segan" dan "hormat" terhadap mereka. Well, selain ada fakta bahwa orang-orang asing itu potensial untuk ditipu ketika menjadi turis di negara kita. Beli cendramata etnik seharga 2 ribu perak dan para turis itu tidak akan keberatan membeli lagi dengan harga sepuluh kali lipatnya. Bagaimanapun, pembeli yang paling menguntungkan adalah maharaja bukan?

Well, kesimpulan saya tentu bukan tentang "mari membenci negara-negara lain yang sudah merugikan Indonesia". Astagfirullah, ngga yaaa.. Yang saya inginkan adalah daripada kita ngomong dan memaki-maki terus tentang negara lain, lebih baik kita melakukan hal nyata untuk negara kita. Ngomong kasar gitu perasaan cuma bikin nambah kesel dan nambah dosa. Efeknya apa? Malah bikin semakin ngga damai negeri ini. Lagipula kok saya curiga ya banyaknya media informasi ini malah bikin praktek divide et impera alias adu domba semakin subur. Ngga usah pedulilah kalau ada orang negara lain yang menghina-hina kita. Orang terpelajar tuh harusnya pakai cara cerdas, bukan dengan cara-cara kasar.

Kalau kita pelajar, jadilah pelajar yang baik dan bermoral. Yang nantinya akan membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan ngga korup. Yang nantinya bisa memberikan kontribusi ke tingkat dunia sehingga Indonesia tidak dicap sebagai negara miskin yang "tertinggal" lagi. Jangan lupa bayar pajak (Bismillah, semoga pajak yang kita berikan benar-benar digunakan untuk kepentingan yang semestinya). Berikan yang terbaik untuk negara di mana kita tinggal di atas tanahnya, makan-minum dari hasil buminya, dan mencari rezeki dari potensi di dalamnya.

Dan kalau mau menjaga kebudayaan tradisional kita, ikutlah berpartisipasi dalam melestarikannya.. nih contoh kecilnya ikut unit kebudayaan tradisional seperti saya :p

Demikian tulisan sok tahu dari saya yang sebenar-benarnya masih sangat kurang ilmu ini, semoga tidak ada pihak yang tersinggung.

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Baqarah 2:190).